Rabu, 17 Februari 2010

Definisi disiplin kerja

Disiplin  sangat  penting  untuk  pertumbuhan organisasi, digunakan terutama  untuk memotivasi  pegawai agar dapat  mendisiplinkan diri   dalam melaksanakan pekerjaan  baik secara  perorangan  maupun kelompok. Disamping itu disiplin  bermanfaat mendidik pegawai  untuk mematuhi dan menyenangi  peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik.

Kurang  pengetahuan tentang peraturan,  prosedur,  dan kebijakan yang ada  merupakan  penyebab  terbanyak  tindakan  indisipliner. Salah satu upaya  untuk mengatasi hal tersebut  pihak  pimpinan sebaiknya  memberikan program orientasi  kepada tenaga  perawat/bidan  yang baru pada  hari pertama mereka bekerja, karena  perawat/bidan  tidak dapat diharapkan  bekerja dengan baik dan patuh, apabila  peraturan/prosedur atau kebijakan  yang ada  tidak diketahui, tidak jelas, atau tidak dijalankan  sebagai mestinya.  Selain  memberikan  orientasi,  pimpinan  harus menjelaskan  secara rinci peraturan peraturan yang sering  dilanggar, berikut rasional dan konsekwensinya. Demikian pula  peraturan/prosedur atau kebijakan  yang mengalami perubahan atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan   kepada staf  melalui diskusi aktif.

Tindakan  disipliner  sebaiknya dilakukan, apabila  upaya   pendidikan yang  diberikan telah gagal, karena tidak ada orang yang sempurna. Oleh sebab itu, setiap individu diizinkan untuk melakukan  kesalahan  dan  harus  belajar dari kesalahan tersebut.   Tindakan  indisipliner  sebaiknya dilaksanakan dengan  cara  yang  bijaksana sesuai dengan prinsip dan  prosedur yang  berlaku  menurut tingkat  pelanggaran  dan  klasifikasinya.

PENGERTIAN

Disiplin  berasal  dari  akar  kata   “disciple“  yang  berarti  belajar.

Disiplin  merupakan  arahan  untuk melatih  dan membentuk  seseorang   melakukan sesuatu  menjadi lebih  baik.

Disiplin adalah  suatu proses yang dapat  menumbuhkan perasaan  seseorang untuk mempertahankan  dan meningkatkan  tujuan  organisasi  secara obyektif, melalui kepatuhannya  menjalankan  peraturan  organisasi.

Sanksi indisipliner  dilakukan  untuk  mengarahkan  dan memperbaiki  perilaku pegawai dan  bukan  untuk  menyakiti.  Tindakan  disipliner  hanya  dilakukan  pada pegawai  yang tidak dapat mendisiplinkan  diri,   menentang/tidak dapat  mematuhi  praturan/prosedur organisasi. Melemahnya  disiplin kerja akan mempengaruhi moral pegawai maupun pelayanan  pasen secara langsung, oleh karena itu  tindakan   koreksi  dan pencegahan  terhadap  melemahnya peraturan   harus segera  diatasi   oleh  semua komponen  yang  terlibat  dalam  organisasi.

Pengembangan Disiplin

Asumsi  : Tidak ada orang yang  sempurna, oleh sebab itu  setiap  individu  diizinkan  untuk melakukan  kesalahan  dan belajar  dari  kesalahan  tersebut. Tindakan  koreksi  dilakukan  apabila  individu tidak dapat mematuhi  peraturan  sesuai standar minimal atau tidak dapat  meningkatkan  tujuan organisasi.

PRINSIP-PRINSIP  Disiplin

1.     Pemimpin mempunyai  prilaku  positif

Untuk dapat  menjalankan  disiplin  yang  baik  dan benar,  seorang  pemimpin  harus         dapat menjadi  role model/panutan  bagi  bawahannya. Oleh karena  itu  seorang   pimpinan  harus dapat mempertahankan  perilaku yang positif  sesuai  dengan  harapan staf.

2.   Penelitian  yang  Cermat

Dampak  dari tindakan  indisipliner  cukup serius, pimpinan harus memahami akibatnya. Data dikumpulkan  secara faktual, dapatkan informasi  dari  staf yang lain, tanyakan secara  pribadi  rangkaian pelanggaran yang telah  dilakukan, analisa, dan bila perlu  minta pendapat  dari  pimpinan  lainnya.

3.     Kesegeraan

Pimpinan  harus  peka  terhadap pelanggaran  yang  dilakukan  oleh bawahan sesegera mungkin  dan  harus diatasi  dengan  cara yang bijaksana. Karena,  bila dibiarkan  menjadi kronis, pelaksanaan disiplin yang  akan  ditegakkan  dapat dianggap lemah,   tidak jelas,  dan akan mempengaruhi  hubungan  kerja dalam organisasi  tersebut.

4.     Lindungi  Kerahasiaan  (privacy)

Tindakan indisipliner akan  mempengaruhi  ego staf, oleh karena itu  akan lebih baik apabila permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan  tersendiri dengan suasana yang rileks dan tenang.  Kerahasiaan harus tetap  dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi  masa depannya .

5.     Fokus  pada  Masalah.

Pimpinan  harus  dapat  melakukan  penekanan  pada kesalahan  yang dilakukan bawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan  bahwa  kesalahan yang dilakukan  tidak dapat dibenarkan.

6.     Peraturan   Dijalankan  Secara  Konsisten

Peraturan  dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap  pegawai yang bersalah harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.

7.     Fleksibel

Tindakan disipliner  ditetapkan apabila  seluruh  informasi  tentang  pegawai telah di analisa  dan dipertimbangkan. Hal yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya,  prestasi pekerjaan yang lalu,  tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi

8.     Mengandung  Nasihat

Jelaskan secara  bijaksana  bahwa pelanggaran yang dilakukan  tidak dapat diterima. File pegawai  yang berisi  catatan  khusus  dapat digunakan sebagai acuan, sehingga mereka  dapat memahami  kesalahannya.

9.     Tindakan   Konstruktif

Pimpinan harus yakin  bahwa bawahan  telah  memahami perilakunya bertentangan  dengan tujuan organisasi dan  jelaskan kembali   pentingnya  peraturan  untuk staf maupun organisasi. Upayakan   agar  staf  dapat merubah perilakunya   sehingga  tindakan indisipliner  tidak terulang lagi.

10.     Follow Up  (Evaluasi)

Pimpinan  harus secara cermat  mengawasi dan  menetapkan  apakah  perilaku bawahan sudah  berubah. Apabila perilaku bawahan  tidak berubah, pimpinan harus  melihat kembali penyebabnya  dan mengevaluasi kembali  batasan  akhir tindakan indisipliner.

TUJUAN  disiplin

Difokuskan   untuk mengoreksi  penampilan kerja agar  peraturan  kerja dapat diberlakukan  secara konsisten. Tidak  bersifat  menghakimi dalam memberlakukan  hukuman  atas  tindakan  indisipliner.

 

Teguran  Secara  Lisan

Teguran  secara  lisan  terbatas  dalam  hal mengingatkan perawat  untuk kesalahan yang kecil  dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu  tindakan  koreksi,  biasanya  teguran   dilakukan   secara pribadi  dengan  cara  yang  bersahabat dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan. Bantu bawahan untuk  membuat keputusan agar tidak mengulangi  kesalahannya. Buat catatan  khusus bahwa perawat telah melakukan konsultasi, catat waktu, tempat, dan   permasalahannya,  serta kesimpulan konsultasi.   Dokumen  dimasukkan  kedalam  file pribadi perawat.

Teguran  Secara  Tertulis

Teguran secara  tertulis  dilakukan  apabila  pelanggaran  diulangi kembali, tidak menunjukan  perbaikan  atau pelanggarannya cukup serius. Dalam  teguran secara tertulis, harus dicantumkan   nama pegawai,  nama pimpinan, permasalahannya,  rencana perbaikan, dan  batas waktu perbaikan  serta  konsekwensi nya  apabila  pelanggaran  diulangi. Bawahan harus membaca dan memahami  sanksi yang diberikan dan disepakati bersama.  Dokumen  dimasukan  ke dalam  file pribadi  pegawai dan tembusannya diberikan kepada yang bersangkutan.  Sanksi biasanya disesuaikan dengan  kebijakan  institusi atau organisasi  setempat.

Keputusan  Terakhir/Skors

Keputusan  terakhir  atau  terminasi  dilakukan  karena pimpinan  melihat  bahwa kesalahan yang dilakukan  oleh  bawahan  sudah sangat  serius dan selama   batas waktu  perbaikan   perilaku bawahan  tidak memperlihatkan perubahan. Keputusan  terakhir  biasanya  dilakukan  dengan melibatkan  pimpinan    organisasi/Departemen. Keputusan  terakhir /skors  dapat dilakukan dengan berbagai cara  tergantung  pada tingkat kesalahannya maupun  kebijakan  dari  institusi / organisasi.  Antara lain  adalah  : Penurunan pangkat,  mutasi,  penundaan kenaikan pangkat / berkala,  penurunan insentif, tidak  diperkenankan  bekerja untuk jangka waktu pendek , jangka waktu panjang, atau akhirnya  diberhentikan / dikeluarkan.

Modifikasi Perilaku

Dapatkah  perilaku  bawahan  dirubah  oleh perubahan  perilaku  pimpinan  ?

Apakah  perilaku pimpinan   dapat  digunakan  sebagai  contoh  yang baik dan layak ditiru  oleh bawahannya ?

Ada  beberapa cara  yang  dapat digunakan  pimpinan  untuk  menstimulasi  bawahan agar  dapat merubah  perilaku  yang kurang baik  kearah yang  lebih baik sehingga peningkatan kinerja  sesuai standar dapat  dicapai:

Penguatan  yang positif

Penguatan  positif akan  meningkatkan  kemungkinan  individu untuk mengulangi  kembali  tindakan  yang diharapkan. Hal ini dapat dilakukan  dengan  segera  memberikan  pujian terhadap  hal  positif yang  dilakukan  bawahan .

Contoh   “ Anda telah mengumpulkan  informasi  yang berharga selama  anda  mewawancarai  Tn. Saroja  “

“ Saya  sangat  menghargai  perawat  yang  menghadiri  pertemuan  ini “

Hal  lain  yang  dapat  digunakan untuk menstimulasi  bawahan adalah dengan memberikan umpan balik, seperti : perhatian,  hadiah, tugas khusus,  naik jabatan, pujian, senyuman dan lain-lain.  Pengakuan  adalah  salah satu penguatan  yang  mudah  dilakukan  disamping  murah. Oleh karena itu  seorang pemimpin  harus mengetahui  dan memahami bentuk dorongan  seperti apa  yang perlu diberikan  pada setiap bawahan  dalam berbagai situasi.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 Anak anak | Design : Noyod.Com